Cerpen Islami


Ketika Ikhlas Berkata Lebih dari Cinta
(Syaa)
Teriknya mentari terus mengikuti langkahku. Kupacu langkah bersama detik waktu sembari mengayunkan jari-jemari di ponselku. Kukabari seseorang yang jauh disana bahwa praktikumku telah usai dan aku bisa mengikuti kegiatan yang biasa kami jalani bersama.
BRUUUKKK,,, kuhempaskan badanku diatas kasur meluapkan kelelahanku hari ini.
“Masih jam 14.45 chatnya juga belum dibalas”
“Oke Dilla kamu bisa tidur 15 menit”, benakku.
Yaaa,, namaku Dilla seorang mahasiswi Teknik Kimia di salah satu perguruan tinggi. Kesibukan kuliah membuatku sampai kewalahan untuk membagi waktu bahkan untuk tidur dengan nyenyak pun hanya sebagai wacana.
Hari ini hari sabtu, seperti biasa aku akan pergi mengajar ekstrakulikuler disalah satu Sekolah Dasar di kota ini bersama seseorang bernama Haris, kak Haris biasa aku memanggilnya. Dia yang mengajakku untuk bergabung di kegiatan ekstrakulikuler Sekolah dasar itu. Aku mengenalnya sejak duduk di bangku MA setara dengan SMA lah dan kami juga berkecimpung di organisasi yang sama dulu. Jadi, sekarang sekalian mengaplikasikan ilmu ceritanya.
DDDRRRRTTTT,,, ponselku bergetar merusak mimpi indahku.
“Berangkat kita lagi dik? Sholat Ashar disana aja yaa. Kakak mau istirahat dimasjid dekat SD bentar Dilla, lelah sangat”. Curhatnya
Kak Haris juga berkuliah di perguruan tinggi yang sama denganku, tapi kami beda jurusan. Beliau salah satu aktivis dakwah di kampusnya. Jadi aku sudah maklum kalau dia kelelahan.
(Dengan mata sayu-sayu kumembalas chatnya) “Oke kak”.
Kak Haris selalu menjemputku ketika hendak berangkat, jadi aku biasa menunggunya dikos sambil bersiap-siap untuk berangkat.
“Kakak dibawah, Jom”. Begitu yang kubaca saat ponselku berbunyi.
Aku langsung bergegas turun dan kulihat kak Haris sudah menunggu sambil memainkan ponselnya. Pandangannya terarah padaku dan dia memasukkan ponselnya kedalam tas untuk bersiap berangkat.
“Kakak, ngantuk banget Dil”. Curhatnya lagi
“Waduuhh,, Hati-hati yaa kak Dilla belum sarjana lagi”. Candaku sambil naik keatas motornya.
Roda motor kak Haris berputar menghantarkan kami ke Sekolah Dasar yang kami tuju. Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir kami. Jantungku berdegup kencang saat berada didekatnya. Aku juga bingung mengapa hal itu terjadi. Jujur sudah lama aku menaruh kagum pada kak Haris. Beliau orang yang baik, mandiri, humoris, bisa dibilang perhatian dan lemah lembut. Satu hal lagi yang membuat hatiku meleleh, kak Haris adalah orang yang taat beribadah dan dia juga memiliki kemampuan lebih dalam seni baca Al-Qur’an. Jadi sepertinya cocoklah buat dijadikan imam dan sepertinya tidak cocok dengan wanita seperti aku (sadar diri) Hehehehehe.
“CIIIIIIIIITTTT!!!!!!!”..... tiba-tiba kak Haris mengerem mendadak
“KAK HARIS”, refleksku.
Spontan aku terkejut dan melihat kedepan apa yang terjadi. Kulihat ada sebuah mobil yang melintang di depan kami. Kak Haris juga tampak terkejut dan menahan motornya agar tidak terjatuh. Aku dengan spontan turun dari atas motor dan menampakkan wajah ketakutanku padanya. Aku trauma karna pernah mengalami kecelakaan sebelumnya. Aku takut terajadi apa-apa karna tadi kak Haris mengatakan dirinya sedang mengantuk.
“Naik Dilla”, pintanya.
“Gak papa kok kakak cuma terkejut tadi, kakak gak lihat ada mobil”, jelasnya dengan lembut
Aku pun naik dan masih belum bisa kusembunyikan ketakutanku. Kuletak tanganku diwajah dan kupergoki kak Haris menoleh kebelakang untuk memastikan keadaanku dan dia mencoba mejelaskan kembali bahwa dia tidak melihat mobil itu tadi, sembari menenangkanku. Dia memacu motornya lebih lambat.
“Adik di SD aja?”, tanyanya saat kami sudah dekat dengan SD.
“Iya deh kak”, jawabku.
Kak Haris menghentikan motornya di depan gerbang SD dan langsung pergi. Aku berjalan menyusuri ruangan demi ruangan di SD itu untuk menuju ruang majelis guru. Tak ada seorangpun kulihat di ruang guru ini karna kebetulan kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Aku duduk di sebuah meja di barisan depan, tempat biasanya dimana aku duduk.
            Sambil menunggu adzan ashar berkumandang, kubuka lembaran demi lembaran tugas kuliahku, berharap bisa mengangsurnya sedikit demi sedikit. Goresan tinta dari jari-jemariku pun mulai mengotori lembaran putih yang ada. Pukul 4 sore, biasanya kami akan mulai kegiatan ekstrakulikuler di SD ini. Lantunan indah suara adzanpun mulai terdengar berkumandang. Aku membereskan tugas-tugasku dan bergegas menuju tempat wudhu dan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang hamba di ruangan yang sama.
            Setelah selesai, aku kembali duduk dan melanjutkan pekerjaanku yang sempat kutinggalkan tadi. Kulirik ponselku untuk melihat jam.
“16.04, kak Haris kok belum sampai ya..”, benakku.
Adik-adik di SD ini juga belum tampak keluar kelas tanda jam pelajaran berakhir. Menit demi menit, aku bergulat menyelesaikan tugas ini. Lelah pasti, tapi apalah daya aku harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
“Assalamu’alaikum”, kata seseorang memasuki ruangan ini.
“Wa’alaikumussalam”, jawabku pelan.
Yaa,, itu suara kak Haris. Aku tak melihat wajahnya aku hanya melirik langkahnya. Memastikan bahwa yang datang itu benar-benar kak Haris. Kak Haris duduk di meja depan yang menghadap serong kearah mejaku.
“Aduuuhh Dil, tangan kakak sakit haaa”, katanya lirih sambil memegang pergelangan tangannya.
“Kenapa kak?”, tanyaku khawatir.
“Nahan motor tadi”, jawab kak Haris
“Waduuuuhh, jadi gimana kak??”, tanyaku bingung
Aku jadi merasa bersalah karna fikirku itu terjadi karna aku. Kak Haris harus menahan motornya dan aku sebagai beban tambahannya saat kejadian tadi. Kalau aku pegang tangannya untuk diurut tidak mungkin karna kami tidak mahrom. Aku semakin merasa bersalah.
“Nanti diurut aja”, kata kak Haris.
Kami seketika diam, aku sibuk menyelesaikan tugasku dan kak Haris sibuk memainkan ponselnya sambil melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan irama-irama yang indah. Aku senyum-senyum sendiri mendengarnya tapi kupastikan dia tidak mengetahui kalau aku senyum-senyum. Waduhhh,, bakalan hancur dunia persilatan kalau kak Haris mengetahuinya. Aku sangat senang mendengarnya dan aku sangat nyaman berada di dekatnya. Kak Haris,,, andai kau tahu perasaan dalam diamku. EIIITTTSSS,, jangan sampai tahu. Aku bisa maluuuuuuuu. Karna kutahu dan sadar bahwa kak Haris tidak akan mungkin memiliki perasaan yang sama padaku. Biarlah perasaan ini kusimpan sendiri. Ulu uluuuuu...
“Dilla, kalau seandainya nikah sekarang siap gak??”, tanya kak Haris memecah keheningan.
Bagai disambar petir rasanya. Jantungku berdegup kencang seperti mau copot. Batinku sejenak bertanya-tanya kenapa kak Haris menanyakan hal itu padaku dan dialah laki-laki pertama yang pernah mengutarakan pertanyaan ini padaku atau hal ini biasa aja tapi akunya yang terlalu baper. Ya Allah,, entahlah aku bingung.
“Siap dalam segi apa kak”, jawabku grogi dan sambil mikir.
“Yaaa,,, siap dalam segi dunia dan akhirat dong”, balasnya sambil memandang ke arahku.
Fikirku di obrak abrik oleh pertanyaan dari kak Haris.
“Kalau akhirat, Dilla belum siap kak”, jawabku yang semakin grogi.
“Kenapa Dill?”, tanya kak Haris semakin penasaran.
“Kak Haris, menikah itu bukan perkara mudah, kami seorang perempuan yang pastinya akan melahirkan seseorang nantinya. Mau jadi apa orang itu tergantung kami kan? Itu berat kak, masih banyak yang harus kami persiapkan”, jelasku.
Aku semakin grogi menjawabnya, jawaban macam apa ini fikirku. Kak Haris yang tadinya memandang ke arahku sembari menyimak jawaban yang ku berikan kini mengalihkan pandangannya sambil sedikit mengangguk-angguk. Aku tidak tahu makna anggukan itu apa yang jelas jantungku rasanya mau copot di hujam dengan pertanyaan seperti itu dari sosok yang aku kagumi dalam diam.
Kak Haris melanjutkan anggukannya seraya berkata dan menjelaskan bahwa beliau ingin sekali nikah muda. Dia mengatakan kalau ditanya nikah sekarang dia mau tapi belum siap, itu yang dijelaskan kak Haris. Kak Haris mengatakan bahwa dia sudah memiliki sosok wanita yang akan di beri proposal ta’aruf katanya.
Entah kenapa saat mendengar sosok wanita yang akan diberi proposal ta’aruf hatiku menjadi hancur lebur, sedih dan campur aduklah perasaanku. Padahal kau itu bukan siapa-siapanya Dilla, kau hanya penyimpan cinta rahasia. Pupus harapan hayati, fikirku. Aku tak mungkin menjadi sosok wanita beruntung itu. Aku aja seperti ini. Gak akan mungkinlah menjadi tipikal wanita kak Haris. Proses perjalan hijrahnya dan sejak bergabung di lembaga dakwah kampus mungkin benyak mengubah sosok dan karakter kak Haris sedangkan aku bukanlah apa-apa dan sangat tidak cocok untuknya.
Detik detik di SD itu kulalui dengan indah bersama kak Haris. Aku bahagia bersamanya. Kami sering tertawa bareng bersama adik-adik di SD karna ada saja tingkah konyol yang terjadi selama kegiatan berlangsung. Menjadi pemerhatinya, sering kali mata kali saling menatap satu sama lain tapi sekuat tenaga harus kupalingkan itu karna aku tidak mau terjerumus dalam lembah dosa. Kak Haris juga seperti itu dia selalu memalingkan pandangannya seketika, bahagia rasanya tatkala melihatnya menundukkan pandangan.
Materi demi materi disampaikan oleh kak Haris selama kegiatan berlangsung. Aku berdiri di bawah pohon rindang tak jauh dari mereka. Fikirku dipenuhi oleh pertanyaan kak Haris tadi, kenapa aku yang ditanya hal seperti itu. Ya Allah,, mungkin aku yang terlalu baper. Aku sedikit mengingat sebuat pertanyaan kak Haris yang pernah ditanyakannya padaku. Saat itu situasi dan kondisinya sama seperti tadi. Di ruangan yang sama tapi dengan pertanyaan berbeda.
“Dilla, mau gak bercadar?”,tanya kak Haris
Dengan grogi yang hampir sama akupun menjawab, “Ayah Dilla gak izinin Dilla untuk bercadar kak”.
“Loh kenapa? Dilla tanya langsung? Kakak pengen banget punya istri yang bercadar”, kata kak Haris.
Tapi sebelum aku menjawab, percakapan kami terpotong oleh kedatangan seorang guru di SD itu.
            Waduhh,, pergulatan hatiku bercampur aduk. Kenapa pertanyaan seperti itu dilontarkan ke aku. ”ahh,, sudahlahh. Mungkin aku hanya kebaperan”, Fikirku. Aku pun beranjak dan ikut bergabung dengan kak Haris dan adik-adik dalam kegiatan. Beberapa kegiatan sudah kami lakukan tak terasa sudah pukul enam. Kami pun harus bergegas pulang. Kak Haris juga tampak buru-buru. Aku sudah memakluminya. Kak Haris harus mengejar waktu untuk menghantarkanku dan mengejar waktu maghrib agar tidak terlambat sampai mesjid. Yaa,, karna yang kutahu bahwa selama kak Haris kuliah dia tinggal di Masjid bertugas dan beramal disana. Kemandirian dan kesholehannya menghatarkan kak Haris menjadi sosok yang luar biasa.
            Hari-hari kulewati seperti biasa, kesibukan akademik dan dilembaga dakwah kampus menghiasi hari-hari ku di semester dua ini. Lelah pasti, hidup difakultas yang terkenal super sibuk sontak tak menyurutkan semangatku untuk beraktivitas dan membagi waktuku untuk akademik, organisasi dan kegiatan ekstrakulikuler di SD.
            Tidak terasa semester dua berlalu. Libur panjang, kampung halaman sudah menantiku. Aku ingin segera bergegas pulang untuk melepaskan rinduku pada keluarga. Seluruh kegiatan apalah itu harus kutinggalkan sejenak, termasuk SD dan kak Haris yang ntah bagaimana kabarnya sekarang. Jujur saja kami hanya berkomunikasi hanya untuk pergi ke SD. Tidak ada yang istimewa dari kami, yang istimewa hanyalah cinta dalam diamku padanya.
 Hari-hariku dikampung halaman begitu menyenangkan. Sampai tiba pada suatu malam yang membuat ragaku seperti tak bertulang. Lisanku kaku, sekujur badanku bergetar. Hati dan jantungku mau copot rasanya serta fikirku serasa di obrak-abrik.
Kak Haris, iya kak Haris. Dia mengganggu malamku. Entah apa maksud dari semua ini, dia datang kerumahku bersama orangtuanya tanpa memberi kabar. Mataku terbelalak menatap sambil memberi kode kepadanya. Ada apa ini?? Apa maksudnya?? Tapi kak Haris mengabaikannya. Orangtua serta abangku memandangku penuh tanda tanya. Aku bingung dan hanya bisa menjawab. Kak haris adalah kakak kelasku sewaktu di MA.
Kak haris bersama kedua orangtuanya duduk dan berbincang dengan kedua orangtuaku sedangkan aku sibuk menyiapkan minuman untuk mereka. Aku kebingungan setengah mati, jangan sampai teh manis yang ku buat berubah jadi teh asin karna grogi menambahkan garam bukan gula. Ya Allahh,, apalagi ini fikirku.
Aku berjalan dari dapur menuju ruangtamu tempat dimana semua berkumpul. Pandangan semua tertuju padaku dan aku hanya bisa kersenyum paksa dan menunduk. Setelah minuman ku hidangkan aku kembali kedapur dan tidak ikut bergabung. Aku tidak tahu dan tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku tidak berani keluar dan hanya bisa terduduk di kursi dapur penuh tanda tanya.
Sampai kudengar langkah seseorang menuju kearahku. Deg-degan jantungku, siapa yang ke dapur. Ohh,, ternyata dia abangku. Tanpa basa basi dia langsung menyidangku dan melontarkan segudang pertanyaan.
“Dia siapa Dilla??  Pacar adik?? Kuliah atau pacaran disana dik?? Kecewa abang, gak kasihan lihat ibu sama ayah. Mereka capek-capek kerja, usaha gak kenal hujan gak kenal panas buat nguliahin kita. Ini malah liburan ada laki-laki ngajak ta’aruf. Dilla masih semester dua udah seperti ini. Kecewa abang tau gak. Lihat ayah sama ibu sekarang gimana perasaan  mereka dik”, entah apa saja yang di katakan abangku aku hanya menggeleng-geleng meneteskan air mata aku terkejut kalau kak Haris melakukan hal itu malam ini dan aku belum siap untuk menerimanya.
“Bang, Dilla gak pacaran. Dilla kuliah yang bener kok bang,Dilla gak ada maksud buat ayah sama ibu kecewa”, jawabku meyakinkan abangku sendiri.
“Dilla memang kenal dengan beliau itu bang, dia kakak kelas Dilla tapi demi Allah bang Dilla gak pacaran. Dilla gak buat yang aneh-aneh, Dilla kuliah bener-bener disana bang. Tolong percaya”, aku menjelaskan sekuat tenagaku sambil bercucran air mata membayangkan kekecewaan orangtuaku. Aku memang mencintai kak Haris tapi aku jauh lebih mencintai kedua orangtuaku. Setelah cukup lama aku berada dapur dan abangpun meninggalkanku begitu saja.
Akhirnya, kak Haris dan keluarganya pun berpamitan pulang. Aku dipanggil oleh abangku untuk melepas kepulangan mereka. Aku menyalami ayah dan ibunya kak Haris dan mengatupkan tangan didada pertanda salamku untuk kak Haris dan kak Haris pun melakukan hal yang sama ditambah dengan senyumnya. Aku hanya sekilas melihatnya. Aku tidak berani untuk menatapnya apalagi untuk mengucapkan kata-kata untuknya.
Kak Haris dan keluarganya pun pulang. Aku langsung bersimpuh dihadapan ibuku sambil dihujani air mata.
“Bu, Dilla minta maaf. Dilla gak bermaksud buat ibu sama ayah kecewa. Dilla gak tau kalau kak Haris akan datang kerumah ini dan mengutarakan maksudnya. Ibu maaf.”, aku menangis tersedu-sedu mengatakannya dan kupandang wajah ibu juga sudah meneteskan air mata.
“Ibu kecewa dilla, selama ini  ayah dan ibu berjuang mati-matian disini agar kalian disana bisa kuliah yang bener, bisa jadi orang sukses, tidak seperti kami. Tapi kok malah seperti ini. Kan ibu dan ayah udah bilang dari awal kalau kamu mau nikah kami nikahkan, kalau kamu mau kuliah kami kuliahkan. Bukan kuliah ditengah-tengahnya nikah dil”, ungkap kekecewaan ibu dengan nada sedikit keras.
“Ibu, MAAAAAF...”, hanya itu yang bisa keluar dari bibirku.
Ibu langsung pergi dan melepaskan persipuhanku padanya. Aku beralih keayah. Aku berhadapan dengan ayah.
 Kulihat ayah dengan wibawa dan ketegarannya. Aku juga bisa melihat kekewaannya padaku. Kuletakkan kepalaku di pahanya sambl menangis tersedu-sedu.
“Ayah,, maafin Dilla yah. Dilla gak mau buat ayah dan ibu kecewa yah. Dilla gak tau bakalan kayak gini. Ayah,, Dilla harus gimana??”, aku mengutarakan semua pada ayah karna yang kutahu ayah selalu tenang dalam mengahadapi masalah dan sangat cocok untuk bertukar fikiran.
“Ayah tahu sayang, sudah jangan nangis lagi”, kata ayah sambil membelai kepalaku.
“Ikuti kata hati yaa sayang, Dilla mau nya gimana?? Dilla mau menikah dengan Haris dan menerima resiko seperti perjanjian awal dulu. Ayah akan nikahkan tetapi setelah itu Dilla bukan tanggung jawab ayah lagi termasuk kuliah Dilla bukan tanggungjawab ayah lagi. semua tergantung Dilla nak, kita sudah bicarakan hal ini sebelumnya kan”, jelas ayah.
Malam itu diriku sangat pilu, aku bingung mengutarakan perasaanku. Aku mengadu kepada Rabb-ku dan malam itu juga aku memutuskan untuk menolak berta’aruf dengan kak Haris. Aku memang mencintai kak Haris tapi kedua orangtuaku lebih penting. Komitmenku untuk berkuliah baru menikah akan tetap kujalani untuk membahagiakan keduan orangtuaku. Mereka adalah intan berlian yang kupunya. Segalanya mereka berikan untukku maka segalanya juga akan kuberikan untuk mereka. Termasuk kebahagiaanku.
Keesokan harinya, kuberanikan diri untuk menelpon kak Haris untuk mengatakan semuanya. “Pukul 17.15” mungkin ini saatnya.
“Hallo, Assalamu’alaikum kak”, mulaiku di telpon.
“Wa’alaikumussalam dik”, jawab kak Haris penuh kelembutan.
“Emmm,,, begini kak...”,mulaiku dengan bingung dan grogi.
“Kenapa dik?? Tanya kak Haris dengan nada lembut.
Aku tak kuat mengatakannya, dadaku terasa sesak menahan perasaan ini, air mataku pun tak dapat lagi kubendung. “Kau bisa Dilla, Abaikan perasaanmu untuk kebahagian ayah ibumu. AYO CEPAT KATAKAN”. Benakku dalam hati.
“Kak Hariis,, kak Dilla mau bilang sesuatu tentang hal kemaren malam. Kak, maaf Dilla tidak bisa menerima ta’aruf dari kakak dengan alasan yang tidak bisa Dilla jelaskan kak. Kak Dilla bukan wanita yang baik untuk kakak, Dilla yakin ada wanita lain yang jauh lebih baik dari Dilla yang lebih pantas mendampingi kakak, maaf kak Assalamu’alaikum”, tanpa menunggu jawaban dari Kak Haris aku langsung mematikan telponnya. Air mataku kembali menetes mencurahkan isi hatiku.
Hari-hariku berjalan seperti biasa. Liburan telah usai dan aku kembali disibukkan dengan rutinitasku kecuali kegiatan di SD. Aku resign dari SD dengan alasan praktikum yang sangat menyita waktu jadi aku sulit membagi waktu, itu yang kukatakan kepada kak Haris dan beliau pun memakluminya. Padahal aku tidak kuat untuk bertemu dengannya karna takut menyakiti perasaannya dan perasaanku. Tak ada kabar darinya setelah kejadian itu dan setelah aku resign dari SD. Hanya untuk berpapasan dijalan atau dikampus aja tidak pernah. Biarlah fikirku, biar cinta ini tetap ku jaga dan aku harus fokus pada kuliahku.
Semester demi semester pun berlalu, akhirnya aku berhasil menyelesaikan studiku dan aku langsung diterima bekerja di salah satu pabrik di luar kota. Orangtuaku sangat bangga padaku. Setelah beberapa bulan bekerja, aku ditugaskan untuk melakukan kunjungan kesebuah pabrik di luar kota, letaknya lumayah jauh dan sedikit menyita waktu cukup banyak di perjalanan. Perjalanan kutempuh seorang diri, ku kemudikan mobilku dengan kecepatan normal dan menghantarkanku tiba di sebuah masjid untuk beristirahat sholat dzuhur. Setelah selesai aku langsung buru-buru menuju mobil.
“Mbak,,”,panggil seseorang
“Dompetnya jatuh”, katanya
Kuarahkan pandanganku kebelakang, akau tak sadar karna buru-buru ingin bergegas pergi. “Astaghfirullah, iya terimakasih yaa”, ucapku. Alangkah terkejutnya aku saat melihat wajah orang yang mengembalikan dompetku.
“KAK HARIS”, ucapku dengan penuh gembira dan terkejut
“DILLA”, kak Harispun dengan ekspresi yang sama.
Hari itu kami berbincan-bincang menghabiskan waktu beberapa jam. Kak haris dua tahun lebih dulu wisuda dari pada aku. dia melanjutkan studinya di sebuah pesantren dan kemudian diterima bekerja di salah satu perusahaan. Kami saling bercerita satu sama lain melepas kerinduan ceritanya karna kami tak pernah bertemu sejak kejadian itu, jujur perasaan itu masih ada dihatiku.
Pertemuan kami berakhir dengan singkat namun berlanjut dengan cerita indah. Kejadian malam itu terulang kembali, namun kali ini aku dan keluarga menerima kak Haris dengan senyuman manis. Kak Haris mengkhitbahku dan kamipun menikah, melukis cerita indah bersama yang sudah kami pendam sejak lama.
Cinta yang selama ini kupendam tidak sia-sia. Bagiku cinta itu sebuah pertanggungjawaban. Dia tumbuh dan harus kujaga. Ketika aku harus mengikhlaskan cintaku untuk kak Haris pada saat itu demi kebahagiaan orangtuaku tapi aku tak pernah takut kehilangan cintanya, karna kuyakin cinta tak pernah salah tempat untuk berlabuh. Dia akan datang pada waktu yang tepat untuk menggoreskan kebahagiaan yang hakiki. Ketika ikhlas yang kuberi tak sebesar cinta dihati. Itulah sebuah pengorbanan ketika ikhlas berkata lebih dari cinta dan berbuah manis pada akhirnya.

Komentar