Cerpen Islami
Ketika
Ikhlas Berkata Lebih dari Cinta
(Syaa)
Teriknya mentari terus mengikuti langkahku. Kupacu langkah bersama detik waktu sembari
mengayunkan jari-jemari di ponselku. Kukabari seseorang yang jauh disana bahwa
praktikumku telah usai dan aku bisa mengikuti kegiatan yang biasa kami jalani
bersama.
BRUUUKKK,,,
kuhempaskan badanku diatas kasur meluapkan kelelahanku hari ini.
“Masih jam
14.45 chatnya juga belum dibalas”
“Oke Dilla kamu
bisa tidur 15 menit”, benakku.
Yaaa,,
namaku Dilla seorang mahasiswi Teknik Kimia di salah satu perguruan tinggi.
Kesibukan kuliah membuatku sampai kewalahan untuk membagi waktu bahkan untuk
tidur dengan nyenyak pun hanya sebagai wacana.
Hari
ini hari sabtu, seperti biasa aku akan pergi mengajar ekstrakulikuler disalah
satu Sekolah Dasar di kota ini bersama seseorang bernama Haris, kak Haris biasa
aku memanggilnya. Dia yang mengajakku untuk bergabung di kegiatan
ekstrakulikuler Sekolah dasar itu. Aku mengenalnya sejak duduk di bangku MA
setara dengan SMA lah dan kami juga berkecimpung di organisasi yang sama dulu.
Jadi, sekarang sekalian mengaplikasikan ilmu ceritanya.
DDDRRRRTTTT,,,
ponselku bergetar merusak mimpi indahku.
“Berangkat kita lagi dik? Sholat Ashar disana aja yaa. Kakak mau
istirahat dimasjid dekat SD bentar Dilla, lelah sangat”. Curhatnya
Kak Haris juga berkuliah di perguruan tinggi yang sama denganku,
tapi kami beda jurusan. Beliau salah satu aktivis dakwah di kampusnya. Jadi aku
sudah maklum kalau dia kelelahan.
(Dengan mata sayu-sayu kumembalas chatnya) “Oke kak”.
Kak
Haris selalu menjemputku ketika hendak berangkat, jadi aku biasa menunggunya
dikos sambil bersiap-siap untuk berangkat.
“Kakak dibawah, Jom”. Begitu yang kubaca saat ponselku berbunyi.
Aku langsung bergegas turun dan kulihat kak Haris sudah menunggu
sambil memainkan ponselnya. Pandangannya terarah padaku dan dia memasukkan
ponselnya kedalam tas untuk bersiap berangkat.
“Kakak, ngantuk
banget Dil”. Curhatnya lagi
“Waduuhh,, Hati-hati yaa kak Dilla belum sarjana lagi”. Candaku sambil
naik keatas motornya.
Roda motor kak Haris berputar menghantarkan kami ke Sekolah Dasar
yang kami tuju. Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah katapun yang terucap dari
bibir kami. Jantungku berdegup kencang saat berada didekatnya. Aku juga bingung
mengapa hal itu terjadi. Jujur sudah lama aku menaruh kagum pada kak Haris.
Beliau orang yang baik, mandiri, humoris, bisa dibilang perhatian dan lemah
lembut. Satu hal lagi yang membuat hatiku meleleh, kak Haris adalah orang yang
taat beribadah dan dia juga memiliki kemampuan lebih dalam seni baca Al-Qur’an.
Jadi sepertinya cocoklah buat dijadikan imam dan sepertinya tidak cocok dengan
wanita seperti aku (sadar diri) Hehehehehe.
“CIIIIIIIIITTTT!!!!!!!”..... tiba-tiba kak Haris mengerem mendadak
“KAK HARIS”, refleksku.
Spontan
aku terkejut dan melihat kedepan apa yang terjadi. Kulihat ada sebuah mobil
yang melintang di depan kami. Kak Haris juga tampak terkejut dan menahan
motornya agar tidak terjatuh. Aku dengan spontan turun dari atas motor dan
menampakkan wajah ketakutanku padanya. Aku trauma karna pernah mengalami
kecelakaan sebelumnya. Aku takut terajadi apa-apa karna tadi kak Haris
mengatakan dirinya sedang mengantuk.
“Naik
Dilla”, pintanya.
“Gak papa kok kakak cuma terkejut tadi, kakak gak lihat ada mobil”,
jelasnya dengan lembut
Aku pun naik dan masih belum bisa kusembunyikan ketakutanku.
Kuletak tanganku diwajah dan kupergoki kak Haris menoleh kebelakang untuk
memastikan keadaanku dan dia mencoba mejelaskan kembali bahwa dia tidak melihat
mobil itu tadi, sembari menenangkanku. Dia memacu motornya lebih lambat.
“Adik di SD
aja?”, tanyanya saat kami sudah dekat dengan SD.
“Iya deh kak”,
jawabku.
Kak Haris menghentikan motornya di depan gerbang SD dan langsung
pergi. Aku berjalan menyusuri ruangan demi ruangan di SD itu untuk menuju ruang
majelis guru. Tak ada seorangpun kulihat di ruang guru ini karna kebetulan
kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Aku duduk di sebuah meja di
barisan depan, tempat biasanya dimana aku duduk.
Sambil menunggu
adzan ashar berkumandang, kubuka lembaran demi lembaran tugas kuliahku,
berharap bisa mengangsurnya sedikit demi sedikit. Goresan tinta dari
jari-jemariku pun mulai mengotori lembaran putih yang ada. Pukul 4 sore,
biasanya kami akan mulai kegiatan ekstrakulikuler di SD ini. Lantunan indah
suara adzanpun mulai terdengar berkumandang. Aku membereskan tugas-tugasku dan
bergegas menuju tempat wudhu dan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang hamba
di ruangan yang sama.
Setelah selesai,
aku kembali duduk dan melanjutkan pekerjaanku yang sempat kutinggalkan tadi.
Kulirik ponselku untuk melihat jam.
“16.04, kak Haris kok belum sampai ya..”, benakku.
Adik-adik di SD ini juga belum tampak keluar kelas tanda jam
pelajaran berakhir. Menit demi menit, aku bergulat menyelesaikan tugas ini.
Lelah pasti, tapi apalah daya aku harus bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
“Assalamu’alaikum”, kata seseorang memasuki ruangan ini.
“Wa’alaikumussalam”, jawabku pelan.
Yaa,, itu suara kak Haris. Aku tak melihat wajahnya aku hanya
melirik langkahnya. Memastikan bahwa yang datang itu benar-benar kak Haris. Kak
Haris duduk di meja depan yang menghadap serong kearah mejaku.
“Aduuuhh Dil, tangan kakak sakit haaa”, katanya lirih sambil memegang
pergelangan tangannya.
“Kenapa kak?”, tanyaku khawatir.
“Nahan motor tadi”, jawab kak Haris
“Waduuuuhh,
jadi gimana kak??”, tanyaku bingung
Aku jadi merasa bersalah karna fikirku itu terjadi karna aku. Kak Haris
harus menahan motornya dan aku sebagai beban tambahannya saat kejadian tadi.
Kalau aku pegang tangannya untuk diurut tidak mungkin karna kami tidak mahrom.
Aku semakin merasa bersalah.
“Nanti diurut aja”, kata kak Haris.
Kami seketika diam, aku sibuk menyelesaikan tugasku dan kak Haris
sibuk memainkan ponselnya sambil melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan
irama-irama yang indah. Aku senyum-senyum sendiri mendengarnya tapi kupastikan
dia tidak mengetahui kalau aku senyum-senyum. Waduhhh,, bakalan hancur dunia
persilatan kalau kak Haris mengetahuinya. Aku sangat senang mendengarnya dan
aku sangat nyaman berada di dekatnya. Kak Haris,,, andai kau tahu perasaan
dalam diamku. EIIITTTSSS,, jangan sampai tahu. Aku bisa maluuuuuuuu. Karna
kutahu dan sadar bahwa kak Haris tidak akan mungkin memiliki perasaan yang sama
padaku. Biarlah perasaan ini kusimpan sendiri. Ulu uluuuuu...
“Dilla, kalau seandainya nikah sekarang siap gak??”, tanya kak
Haris memecah keheningan.
Bagai disambar petir rasanya. Jantungku berdegup kencang seperti
mau copot. Batinku sejenak bertanya-tanya kenapa kak Haris menanyakan hal itu
padaku dan dialah laki-laki pertama yang pernah mengutarakan pertanyaan ini
padaku atau hal ini biasa aja tapi akunya yang terlalu baper. Ya Allah,,
entahlah aku bingung.
“Siap
dalam segi apa kak”, jawabku grogi dan sambil mikir.
“Yaaa,,,
siap dalam segi dunia dan akhirat dong”, balasnya sambil memandang ke arahku.
Fikirku di obrak abrik oleh pertanyaan dari kak Haris.
“Kalau
akhirat, Dilla belum siap kak”, jawabku yang semakin grogi.
“Kenapa
Dill?”, tanya kak Haris semakin penasaran.
“Kak
Haris, menikah itu bukan perkara mudah, kami seorang perempuan yang pastinya
akan melahirkan seseorang nantinya. Mau jadi apa orang itu tergantung kami kan?
Itu berat kak, masih banyak yang harus kami persiapkan”, jelasku.
Aku semakin grogi menjawabnya, jawaban macam apa ini fikirku. Kak
Haris yang tadinya memandang ke arahku sembari menyimak jawaban yang ku berikan
kini mengalihkan pandangannya sambil sedikit mengangguk-angguk. Aku tidak tahu
makna anggukan itu apa yang jelas jantungku rasanya mau copot di hujam dengan
pertanyaan seperti itu dari sosok yang aku kagumi dalam diam.
Kak Haris melanjutkan anggukannya seraya berkata dan menjelaskan
bahwa beliau ingin sekali nikah muda. Dia mengatakan kalau ditanya nikah
sekarang dia mau tapi belum siap, itu yang dijelaskan kak Haris. Kak Haris
mengatakan bahwa dia sudah memiliki sosok wanita yang akan di beri proposal
ta’aruf katanya.
Entah kenapa saat mendengar sosok wanita yang akan diberi proposal
ta’aruf hatiku menjadi hancur lebur, sedih dan campur aduklah perasaanku.
Padahal kau itu bukan siapa-siapanya Dilla, kau hanya penyimpan cinta rahasia.
Pupus harapan hayati, fikirku. Aku tak mungkin menjadi sosok wanita beruntung
itu. Aku aja seperti ini. Gak akan mungkinlah menjadi tipikal wanita kak Haris.
Proses perjalan hijrahnya dan sejak bergabung di lembaga dakwah kampus mungkin
benyak mengubah sosok dan karakter kak Haris sedangkan aku bukanlah apa-apa dan
sangat tidak cocok untuknya.
Detik detik di SD itu kulalui dengan indah bersama kak Haris. Aku
bahagia bersamanya. Kami sering tertawa bareng bersama adik-adik di SD karna
ada saja tingkah konyol yang terjadi selama kegiatan berlangsung. Menjadi
pemerhatinya, sering kali mata kali saling menatap satu sama lain tapi sekuat
tenaga harus kupalingkan itu karna aku tidak mau terjerumus dalam lembah dosa.
Kak Haris juga seperti itu dia selalu memalingkan pandangannya seketika,
bahagia rasanya tatkala melihatnya menundukkan pandangan.
Materi demi materi disampaikan oleh kak Haris selama kegiatan berlangsung.
Aku berdiri di bawah pohon rindang tak jauh dari mereka. Fikirku dipenuhi oleh
pertanyaan kak Haris tadi, kenapa aku yang ditanya hal seperti itu. Ya Allah,,
mungkin aku yang terlalu baper. Aku sedikit mengingat sebuat pertanyaan kak
Haris yang pernah ditanyakannya padaku. Saat itu situasi dan kondisinya sama
seperti tadi. Di ruangan yang sama tapi dengan pertanyaan berbeda.
“Dilla,
mau gak bercadar?”,tanya kak Haris
Dengan
grogi yang hampir sama akupun menjawab, “Ayah Dilla gak izinin Dilla untuk bercadar
kak”.
“Loh
kenapa? Dilla tanya langsung? Kakak pengen banget punya istri yang bercadar”,
kata kak Haris.
Tapi sebelum aku menjawab, percakapan kami terpotong oleh
kedatangan seorang guru di SD itu.
Waduhh,,
pergulatan hatiku bercampur aduk. Kenapa pertanyaan seperti itu dilontarkan ke
aku. ”ahh,, sudahlahh. Mungkin aku hanya kebaperan”, Fikirku. Aku pun beranjak
dan ikut bergabung dengan kak Haris dan adik-adik dalam kegiatan. Beberapa
kegiatan sudah kami lakukan tak terasa sudah pukul enam. Kami pun harus
bergegas pulang. Kak Haris juga tampak buru-buru. Aku sudah memakluminya. Kak
Haris harus mengejar waktu untuk menghantarkanku dan mengejar waktu maghrib
agar tidak terlambat sampai mesjid. Yaa,, karna yang kutahu bahwa selama kak
Haris kuliah dia tinggal di Masjid bertugas dan beramal disana. Kemandirian dan
kesholehannya menghatarkan kak Haris menjadi sosok yang luar biasa.
Hari-hari kulewati
seperti biasa, kesibukan akademik dan dilembaga dakwah kampus menghiasi
hari-hari ku di semester dua ini. Lelah pasti, hidup difakultas yang terkenal
super sibuk sontak tak menyurutkan semangatku untuk beraktivitas dan membagi
waktuku untuk akademik, organisasi dan kegiatan ekstrakulikuler di SD.
Tidak terasa
semester dua berlalu. Libur panjang, kampung halaman sudah menantiku. Aku ingin
segera bergegas pulang untuk melepaskan rinduku pada keluarga. Seluruh kegiatan
apalah itu harus kutinggalkan sejenak, termasuk SD dan kak Haris yang ntah
bagaimana kabarnya sekarang. Jujur saja kami hanya berkomunikasi hanya untuk
pergi ke SD. Tidak ada yang istimewa dari kami, yang istimewa hanyalah cinta
dalam diamku padanya.
Hari-hariku dikampung
halaman begitu menyenangkan. Sampai tiba pada suatu malam yang membuat ragaku
seperti tak bertulang. Lisanku kaku, sekujur badanku bergetar. Hati dan
jantungku mau copot rasanya serta fikirku serasa di obrak-abrik.
Kak Haris, iya kak Haris. Dia mengganggu malamku. Entah apa maksud
dari semua ini, dia datang kerumahku bersama orangtuanya tanpa memberi kabar.
Mataku terbelalak menatap sambil memberi kode kepadanya. Ada apa ini?? Apa
maksudnya?? Tapi kak Haris mengabaikannya. Orangtua serta abangku memandangku
penuh tanda tanya. Aku bingung dan hanya bisa menjawab. Kak haris adalah kakak
kelasku sewaktu di MA.
Kak haris bersama kedua orangtuanya duduk dan berbincang dengan kedua
orangtuaku sedangkan aku sibuk menyiapkan minuman untuk mereka. Aku kebingungan
setengah mati, jangan sampai teh manis yang ku buat berubah jadi teh asin karna
grogi menambahkan garam bukan gula. Ya Allahh,, apalagi ini fikirku.
Aku berjalan dari dapur menuju ruangtamu tempat dimana semua
berkumpul. Pandangan semua tertuju padaku dan aku hanya bisa kersenyum paksa
dan menunduk. Setelah minuman ku hidangkan aku kembali kedapur dan tidak ikut
bergabung. Aku tidak tahu dan tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku
tidak berani keluar dan hanya bisa terduduk di kursi dapur penuh tanda tanya.
Sampai kudengar langkah seseorang menuju kearahku. Deg-degan
jantungku, siapa yang ke dapur. Ohh,, ternyata dia abangku. Tanpa basa basi dia
langsung menyidangku dan melontarkan segudang pertanyaan.
“Dia siapa Dilla?? Pacar
adik?? Kuliah atau pacaran disana dik?? Kecewa abang, gak kasihan lihat ibu
sama ayah. Mereka capek-capek kerja, usaha gak kenal hujan gak kenal panas buat
nguliahin kita. Ini malah liburan ada laki-laki ngajak ta’aruf. Dilla masih
semester dua udah seperti ini. Kecewa abang tau gak. Lihat ayah sama ibu
sekarang gimana perasaan mereka dik”,
entah apa saja yang di katakan abangku aku hanya menggeleng-geleng meneteskan
air mata aku terkejut kalau kak Haris melakukan hal itu malam ini dan aku belum
siap untuk menerimanya.
“Bang, Dilla gak pacaran. Dilla kuliah yang bener kok bang,Dilla
gak ada maksud buat ayah sama ibu kecewa”, jawabku meyakinkan abangku sendiri.
“Dilla memang kenal dengan beliau itu bang, dia kakak kelas Dilla
tapi demi Allah bang Dilla gak pacaran. Dilla gak buat yang aneh-aneh, Dilla
kuliah bener-bener disana bang. Tolong percaya”, aku menjelaskan sekuat
tenagaku sambil bercucran air mata membayangkan kekecewaan orangtuaku. Aku
memang mencintai kak Haris tapi aku jauh lebih mencintai kedua orangtuaku.
Setelah cukup lama aku berada dapur dan abangpun meninggalkanku begitu saja.
Akhirnya, kak Haris dan keluarganya pun berpamitan pulang. Aku
dipanggil oleh abangku untuk melepas kepulangan mereka. Aku menyalami ayah dan
ibunya kak Haris dan mengatupkan tangan didada pertanda salamku untuk kak Haris
dan kak Haris pun melakukan hal yang sama ditambah dengan senyumnya. Aku hanya
sekilas melihatnya. Aku tidak berani untuk menatapnya apalagi untuk mengucapkan
kata-kata untuknya.
Kak Haris dan keluarganya pun pulang. Aku langsung bersimpuh
dihadapan ibuku sambil dihujani air mata.
“Bu,
Dilla minta maaf. Dilla gak bermaksud buat ibu sama ayah kecewa. Dilla gak tau
kalau kak Haris akan datang kerumah ini dan mengutarakan maksudnya. Ibu maaf.”,
aku menangis tersedu-sedu mengatakannya dan kupandang wajah ibu juga sudah
meneteskan air mata.
“Ibu kecewa dilla, selama ini
ayah dan ibu berjuang mati-matian disini agar kalian disana bisa kuliah
yang bener, bisa jadi orang sukses, tidak seperti kami. Tapi kok malah seperti
ini. Kan ibu dan ayah udah bilang dari awal kalau kamu mau nikah kami nikahkan,
kalau kamu mau kuliah kami kuliahkan. Bukan kuliah ditengah-tengahnya nikah dil”,
ungkap kekecewaan ibu dengan nada sedikit keras.
“Ibu, MAAAAAF...”, hanya itu yang bisa keluar dari bibirku.
Ibu langsung
pergi dan melepaskan persipuhanku padanya. Aku beralih keayah. Aku berhadapan
dengan ayah.
Kulihat ayah dengan wibawa dan ketegarannya.
Aku juga bisa melihat kekewaannya padaku. Kuletakkan kepalaku di pahanya sambl
menangis tersedu-sedu.
“Ayah,, maafin
Dilla yah. Dilla gak mau buat ayah dan ibu kecewa yah. Dilla gak tau bakalan
kayak gini. Ayah,, Dilla harus gimana??”, aku mengutarakan semua pada ayah
karna yang kutahu ayah selalu tenang dalam mengahadapi masalah dan sangat cocok
untuk bertukar fikiran.
“Ayah tahu
sayang, sudah jangan nangis lagi”, kata ayah sambil membelai kepalaku.
“Ikuti kata hati yaa sayang, Dilla mau nya gimana?? Dilla mau
menikah dengan Haris dan menerima resiko seperti perjanjian awal dulu. Ayah
akan nikahkan tetapi setelah itu Dilla bukan tanggung jawab ayah lagi termasuk
kuliah Dilla bukan tanggungjawab ayah lagi. semua tergantung Dilla nak, kita
sudah bicarakan hal ini sebelumnya kan”, jelas ayah.
Malam itu
diriku sangat pilu, aku bingung mengutarakan perasaanku. Aku mengadu kepada
Rabb-ku dan malam itu juga aku memutuskan untuk menolak berta’aruf dengan kak
Haris. Aku memang mencintai kak Haris tapi kedua orangtuaku lebih penting.
Komitmenku untuk berkuliah baru menikah akan tetap kujalani untuk membahagiakan
keduan orangtuaku. Mereka adalah intan berlian yang kupunya. Segalanya mereka
berikan untukku maka segalanya juga akan kuberikan untuk mereka. Termasuk
kebahagiaanku.
Keesokan harinya, kuberanikan diri untuk menelpon kak Haris untuk
mengatakan semuanya. “Pukul 17.15” mungkin ini saatnya.
“Hallo,
Assalamu’alaikum kak”, mulaiku di telpon.
“Wa’alaikumussalam
dik”, jawab kak Haris penuh kelembutan.
“Emmm,,,
begini kak...”,mulaiku dengan bingung dan grogi.
“Kenapa
dik?? Tanya kak Haris dengan nada lembut.
Aku tak kuat mengatakannya, dadaku terasa sesak menahan perasaan
ini, air mataku pun tak dapat lagi kubendung. “Kau bisa Dilla, Abaikan
perasaanmu untuk kebahagian ayah ibumu. AYO CEPAT KATAKAN”. Benakku dalam hati.
“Kak Hariis,, kak Dilla mau bilang sesuatu tentang hal kemaren
malam. Kak, maaf Dilla tidak bisa menerima ta’aruf dari kakak dengan alasan
yang tidak bisa Dilla jelaskan kak. Kak Dilla bukan wanita yang baik untuk
kakak, Dilla yakin ada wanita lain yang jauh lebih baik dari Dilla yang lebih
pantas mendampingi kakak, maaf kak Assalamu’alaikum”, tanpa menunggu jawaban
dari Kak Haris aku langsung mematikan telponnya. Air mataku kembali menetes
mencurahkan isi hatiku.
Hari-hariku berjalan seperti biasa. Liburan telah usai dan aku
kembali disibukkan dengan rutinitasku kecuali kegiatan di SD. Aku resign dari
SD dengan alasan praktikum yang sangat menyita waktu jadi aku sulit membagi
waktu, itu yang kukatakan kepada kak Haris dan beliau pun memakluminya. Padahal
aku tidak kuat untuk bertemu dengannya karna takut menyakiti perasaannya dan
perasaanku. Tak ada kabar darinya setelah kejadian itu dan setelah aku resign
dari SD. Hanya untuk berpapasan dijalan atau dikampus aja tidak pernah. Biarlah
fikirku, biar cinta ini tetap ku jaga dan aku harus fokus pada kuliahku.
Semester demi semester pun berlalu, akhirnya aku berhasil
menyelesaikan studiku dan aku langsung diterima bekerja di salah satu pabrik di
luar kota. Orangtuaku sangat bangga padaku. Setelah beberapa bulan bekerja, aku
ditugaskan untuk melakukan kunjungan kesebuah pabrik di luar kota, letaknya
lumayah jauh dan sedikit menyita waktu cukup banyak di perjalanan. Perjalanan
kutempuh seorang diri, ku kemudikan mobilku dengan kecepatan normal dan
menghantarkanku tiba di sebuah masjid untuk beristirahat sholat dzuhur. Setelah
selesai aku langsung buru-buru menuju mobil.
“Mbak,,”,panggil
seseorang
“Dompetnya
jatuh”, katanya
Kuarahkan pandanganku kebelakang, akau tak sadar karna buru-buru
ingin bergegas pergi. “Astaghfirullah, iya terimakasih yaa”, ucapku. Alangkah
terkejutnya aku saat melihat wajah orang yang mengembalikan dompetku.
“KAK HARIS”,
ucapku dengan penuh gembira dan terkejut
“DILLA”, kak Harispun
dengan ekspresi yang sama.
Hari itu kami berbincan-bincang menghabiskan waktu beberapa jam.
Kak haris dua tahun lebih dulu wisuda dari pada aku. dia melanjutkan studinya
di sebuah pesantren dan kemudian diterima bekerja di salah satu perusahaan.
Kami saling bercerita satu sama lain melepas kerinduan ceritanya karna kami tak
pernah bertemu sejak kejadian itu, jujur perasaan itu masih ada dihatiku.
Pertemuan kami berakhir dengan singkat namun berlanjut dengan
cerita indah. Kejadian malam itu terulang kembali, namun kali ini aku dan
keluarga menerima kak Haris dengan senyuman manis. Kak Haris mengkhitbahku dan
kamipun menikah, melukis cerita indah bersama yang sudah kami pendam sejak
lama.
Cinta yang selama ini kupendam tidak sia-sia. Bagiku cinta itu
sebuah pertanggungjawaban. Dia tumbuh dan harus kujaga. Ketika aku harus
mengikhlaskan cintaku untuk kak Haris pada saat itu demi kebahagiaan orangtuaku
tapi aku tak pernah takut kehilangan cintanya, karna kuyakin cinta tak pernah
salah tempat untuk berlabuh. Dia akan datang pada waktu yang tepat untuk
menggoreskan kebahagiaan yang hakiki. Ketika ikhlas yang kuberi tak sebesar
cinta dihati. Itulah sebuah pengorbanan ketika ikhlas berkata lebih dari cinta
dan berbuah manis pada akhirnya.
Komentar
Posting Komentar